Menurut penilaian Bapak, seberapa kuat pengaruh terorisme saat ini di Indonesia?

Kalau dibilang kuat atau tidak kuat ya, maka saya lebih senang dengan mengatakan mengkhawatirkan. Ini berpotensi membuat konflik, memecah belah bangsa. Dan ini selalu menunggangi agama yang mayoritas, menunggangi kebebasan berdemokrasi walaupun mereka anti-demokrasi sebenarnya.

Teroris ini anti-demokrasi, karena demokrasi itu dianggap produk thaghut, produk setan. Dia ingin mendirikan negara agama menurut versinya, atau sering disebut teokrasi ya. Negara Tuhan. Semuanya harus berdasarkan firman-firman Tuhan menurut versi mereka. Nah, yang jadi masalah, kenapa saya lebih senang mengatakan mengkhawatirkan?

Pernah dengar enggak sih komunisme, marxisme, leninisme di Indonesia? Sudah jarang sekali kan? Dan relatif kalau ada itu ternyata setelah diungkap, ditangkap, ternyata hoaks. Dia sendiri yang teriak-teriak komunisme. Dia sendiri yang bikin bendera, dia sendiri yang bakar. Setelah ditangkap, ditelusuri, hanya untuk membuat gaduh.

Kenapa bisa begitu? Karena ekstrem kiri atau radikalisme kiri yang mengatasnamakan komunisme, marxisme, leninisme sudah dilarang. Larangannya TAP MPRS Nomor XXV Tahun 66. Dikuatkan pasca-reformasi dengan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999. Larangan terhadap penyebarluasan atau propaganda ideologi komunisme, marxisme, leninisme, clear.

Nah yang tidak dilarang itu yang ekstrem kanan atau radikalisme kanan dan lainnya. Jaringan teroris dilarang. Hizbut Tahrir, HTI dilarang, dibubarkan, FPI dibubarkan, yang dilarang yang dibubarkan organisasinya dengan Undang-Undang Ormas. Tetapi ideologinya tidak dilarang. Yang dilarang kan cuma yang kiri, yang kanan yang lainya, yang ingin khilafah, ingin mendirikan negara Islam, ya ingin merdeka.

Kalau hanya ingin dan menyebarkan enggak apa-apa. Kalau sudah angkat senjata baru ditindak. Tapi kan mindset paradigma masyarakatnya kan sudah teracuni dulu. Sampai sini paham ya? Jadi ini sangat mengkhawatirkan bagi negara Indonesia yang sangat plural, yang sangat majemuk ini.

Inilah yang namanya ideologi transnasional. Ideologi transnasional ini adalah kontra atau antitesa ideologi Pancasila, yang notabene nasionalisme moderat, yang bisa mempersatukan kita.

Lantas apa yang harus dilakukan masyarakat agar bisa mencegah munculnya perilaku seperti itu?

Mitigasi ya. Mitigasi baik bagi dirinya maupun lingkungannya. Jadi begini, ada 4 atau 5 poin indikator seseorang atau kelompok orang itu masuk dalam kategori radikalisme, yang berujung atau berpotensi menjadi terorisme. Indikator yang pertama, seseorang dikatakan radikalisme jikalau mereka tidak memiliki komitmen kebangsaan, yaitu konsensus nasional.

Tidak punya komitmen terhadap Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD 45. Dia ingin mengganti Pancasila dengan ideologi lain. Ini masuk. Yang kedua, mereka eksklusif, yang kacamata kuda tadi, merasa paling benar, sombong, dan lain sebagainya, dan intoleran terhadap keragaman yang ada.

Yang ketiga, mereka anti-budaya dan kearifan lokal, terutama anti-budaya, budaya gotong-royong, persatuan, yang dicerminkan dalam tradisi-tradisi keagamaan. Misalnya ada yasinan, tahlilan, sedekah bumi, maulid, halal bi halal. Kalau di Nasrani ada apa itu namanya, Jumat Agung misalnya gitu ya. Paskah, itu tuh anti mereka terhadap itu, nah itu masuk radikalisme.

Yang keempat, mereka pro kekerasan. Artinya itu orang berbuat keras atau bullying, kekerasan baik kekerasan fisik maupun verbal. Orang memfitnah, oh enggak apa-apa, enggak seiman, nah gitu loh. Itu termasuk pro-kekerasan.

Baru yang terakhir, mereka anti terhadap negara dan pemerintahannya yang sah. Anti di sini bukan berarti kritis, kritis wajib dong di era demokrasi boleh, tapi kritis harus membangun, harus konstruktif, harus rasional, harus memberi solusi.

Nah, anti di sini maknanya membangun kebencian, membangun kebencian, memecah belah, membangun ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah, terhadap negara. Dengan hoaks, fitnah, adu domba. Kalau pemerintah sudah tidak dipercaya, maka bisa konflik. Kalau sudah konflik, maka bisa diambil alih kekuasaannya. Kan begitu.

Jadi apa yang harus dilakukan?

Satu, hati-hati di dalam menggunakan gadget, handphone. Yang kedua, unfollow terhadap oknum penceramah, akun-akun yang mengajarkan kebencian, yang mengajarkan intoleran, yang mengajarkan radikalisme, yang mengajarkan anti-pemerintahan, anti ya, sekali lagi bukan kritis, kalau kritis boleh. Harus unfollow, itu penyebar virus semua.

Yang ketiga, follow terhadap akun penceramah yang mendinginkan, yang mempersatukan, yang mendamaikan. Nah yang keempat, yakini bahwa Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, Undang-Undang Dasar 1945, ini adalah perjanjian atau konsensus nasional, perjanjian suci yang harus kita taati, yang harus kita hormati, dan harus kita amalkan.

Kenapa? Pancasila memang bukan agama dan tidak untuk menggantikan agama. Tetapi Pancasila itu dirumuskan oleh founding father bangsa Indonesia, para ulama, para tokoh bangsa, tokoh nasional yang digali dari nilai-nilai luhur agama dan budaya Nusantara. Semua silanya itu adalah perintah Tuhan di dalam agama.

Jadi kalau mengamalkan Pancasila, sejatinya mengamalkan agama. Melawan Pancasila, sejatinya melawan agama. Dan yang terakhir, bangsa kita, bangsa Indonesia ini kaya budaya, kaya kearifan lokal, kaya keragaman, tapi juga kaya sumber daya alam. Leluhur kita pernah menguasai peradaban dunia. Sebelum Masehi ada yang terkenal katanya bangsa Atlantis, ada Sriwijaya, ada Majapahit.

Artinya DNA bangsa Indonesia itu DNA orang-orang hebat, dan kita punya sumber daya yang luar biasa sebagai anugerah Tuhan, ini harus dijaga ya. Bangsa kita akan maju, akan jaya, akan sejahtera kalau masyarakatnya semua kompak, bersatu, rukun membangun untuk kemajuan bangsa. Jangan mau diadu domba, itu saja.

Artinya perbedaan itu harus dilihat sebagai anugerah?

Sekarang begini, kita kan ada Bhinneka Tunggal Ika ya, berbeda-beda tetapi tetap satu. Ini kan sudah digunakan, filosofinya digunakan oleh PBB loh. Ada itu banyak di Youtube atau di media, karena memang Bhinneka yang berbeda-beda. Perbedaan ini adalah kehendak Tuhan, ini sunatullah. Hakikatnya perbedaan ini adalah dari satu Tuhan.

Kita ini kan memang harus banyak wacana diskusi ya, kan sebagai untuk edukasi dan untuk inspirasi. Karena ya ini wujud kepedulian kita pada bangsa kita yang kita cintai ini, ya kan? Sekali lagi, bahwa perbedaan itu sunnatullah.

Orang yang tidak menghormati perbedaan itu kan aneh. Orang itu kehendak Tuhan kok, betul enggak sih? Indah kan? Kalau beda baju kan enggak apa-apa, tapi esensinya tetap manusia. Makanya kalau Gus Dur tuh mengatakan, orang yang hebat, orang yang level tertinggi itu ketika merasa persaudaraan sesama manusia. Kalau bahasa agama Islamnya itu namanya ukhuwah insaniyah.

Setelah sesama saudara, sesama agamalah yaitu ukhuwah Islamiyah, sesama Islam bersaudara. Ada ningkat lagi namanya ukhuwah wathoniyah. Kita saudara sesama anak bangsa. Tapi paling tinggi kata Gus Dur dan kata para ulama ya, adalah ukhuwah insaniyah. Saudara sesama manusia.

Bahwa dalam diri manusia itu ada fihimir ruhi, dalam Islam Ruhul Kudus, itulah Bhinneka Tunggal Ika.

 



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *