Anthony menambahkan, Teknologi AI generatif telah menarik perhatian dunia berkat kemampuannya untuk memproses dan memahami informasi dengan didukung oleh model fondasional yang sebelumnya dilatih menggunakan data dalam jumlah yang besar.

“Kualitas model juga tergantung pada data yang digunakan untuk melatihnya. Misalnya, model bahasa besar atau large language model (LLM) yang dilatih dengan data bahasa Inggris dapat keliru ketika ditugaskan untuk menjawab pertanyaan dalam bahasa lain,” ujar Anthony.

Anthony mencontohkan, kawasan Asia Pasifik adalah rumah bagi sekitar 2.300 bahasa. Di Indonesia sendiri, diketahui terdapat 719 bahasa yang digunakan, termasuk bahasa resminya Bahasa Indonesia, ditambah 718 bahasa lokal yang tersebar di Tanah Air.

“Untuk dapat mengakomodasi keanekaragaman cara kerja, budaya, hingga bahasa di kawasan Asia Pasifik, pelatihan LLM menggunakan data yang kaya akan keanekaragaman budaya menjadi sangat dibutuhkan guna membangun pemahaman yang lebih mendalam,” saran dia.

Anthony meyakini, dengan terciptanya AI yang semakin sadar budaya dan terlokalisasi, maka semakin banyak orang yang mampu mengakses AI, sehingga memberikan dampak positif bagi negara, masyarakat, dan generasi mendatang.

“Perusahaan-perusahaan startup tengah mempelopori pelatihan model AI menggunakan data-data lokal dalam bentuk teks, gambar, audio, video, dan data-data lainnya,” dia menandasi.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *