Liputan6.com, Jakarta – Menteri Nadiem Makarim telah menerbitkan Peraturan Mendikbudristek No. 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar dan Jenjang Pendidikan Menengah yang menyebutkan Pramuka tidak lagi menjadi ekstrakurikuler (ekskul) wajib di sekolah. Hal ini menimbulkan pro-kontra.

Peraturan tersebut juga menyatakan Permendikbud No. 63 Tahun 2014 tentang Pendidikan Kepramukaan sebagai Ekstrakurikuler Wajib pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah tidak berlaku lagi seperti yang tertulis pada Pasal 34 Bab V Bagian Ketentuan Penutup Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024.

Menanggapi hal itu, Ketua Kwarda Provinsi Bangka Belitung Periode 2018 – 2023 dan Anggota DPR terpilih periode 2024 – 2029, Melati Erzaldi menilai hal tersebut kurang tepat. Menurut dia, Pramuka merupakan dimensi ekstrakurikuler yang mampu menjawab berbagai tantangan kehidupan.

“Secara khusus Pramuka mengajarkan nilai-nilai cinta tanah air, toleransi, dan persatuan – kesatuan bangsa. Jadi saya menyayangkan, kebijakan yang tidak tepat ini, karena mengeliminasi kesempatan anak-anak kita untuk mengenal kehidupan dan bangsanya sejak dini,” kata Melati melalui siaran pers diterima, Selasa (2/4/2024).

Melati merasa, hingga saat ini belum ada ekskul yang mampu menanamkan kecintaan terhadap Tanah Air secara komprehensif untuk menjadi manusia Indonesia, kecuali Pramuka. Dia juga merasa, Pramuka juga membuat pribadi yang toleran dan mengutamakan persatuan – kesatuan bangsa di atas segalanya sebagaimana Pramuka.

“Saya menyayangkan dan meminta khusus kepada Menteri Nadiem untuk meninjau ulang soal tidak wajibnya siswa untuk mengikuti ekskul Pramuka,” ujar Melati.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *