Liputan6.com, Jakarta – Guru Besar Hukum dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Edward Omar Sharif Hiariej alias Eddy Hiariej dihadirkan sebagai ahli dalam sidang sengketa Pemilihan Presiden (Pilpres) di Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (4/4/2024).

Pria yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Wamenkumham) ini dihadirkan oleh pihak terkait, yakni Prabowo-Gibran sebagai seorang ahli.

Namun keberadaan Eddy Hiariej sebagai ahli dalam sidang sengketa Pilpres ini dipermasalahkan oleh kubu pemohon 1. Anggota Tim Hukum Nasional Anies-Muhaimin (AMIN), Bambang Widjojanto menilai, Eddy Hiariej tidak layak menjadi ahli karena berstatus tersangka dugaan rasuah.

Tidak terima dengan pernyataan pria yang karib disapa BW tersebut, Eddy Hiariej pun menegaskan bahwa hal itu adalah sebuah pembunuhan karakter atau character assassination.

“Saya kira saya berhak untuk tidak terjadi character assassination, karena begitu dikatakan saudara BW, hari ini pemberitaan dengan seketika mempersoalkan keberadaan saya,” ujar Eddy Hiariej di ruang sidang utama Gedung MK, Jakarta, Kamis (4/4/2024).

Eddy Hiariej kemudian menyampaikan klarifikasi terkait status tersangkanya. Menurut dia, status tersebut sudah gugur melalui sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) pada 30 Januari 2024.

“Saya sebagai tersangka sudah saya challenge di PN Jaksel, dan putusan tanggal 30 (Januari 2024) membatalkan status saya sebagai tersangka,” jawab Eddy.

Usai mengklarifikasi, dia pun menyinggung balik soal status Bambang Widjojantoyang diketahui juga menjadi tersangka. Namun mantan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu tidak melakukan praperadilan, dan malah mengharapkan deponering dari Jaksa Agung.

“Jadi saya berbeda dengan saudara BW, ketika ditetapkan sebagai tersangka, dia tidak men-challange tapi mengharapkan belas kasihan Jaksa Agung,” ucap Eddy menandasi.

 



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *