Liputan6.com, Jakarta РSeiring berjalan waktu, narasi dan propaganda ekstremis telah berkembang dan secara intensif menggunakan segala jenis alat komunikasi digital. Narasi sangat berperan penting pada proses terekrutnya para Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke dalam dunia kekerasan ekstrem.

Dengan adanya kasus-kasus terorisme yang menyangkut para pekerja migran Indonesia di manapun berada, dunia digital memberikan keuntungan sekaligus membahayakan jika tidak disertai literasi bagi penggunanya.

”Ini cukup membahayakan karena yang menjadi incaran adalah diaspora dan pekerja migran. Ruang Migran (RUMI) bersama teman-teman komunitas migran membuat film untuk literasi bagi para pekerja migran,” ujar Noor Huda Ismail, pendiri dan penggagas Ruang Migran (RUMI), dalam diskusi penayangan Film ‘Pilihan’, di Jakarta, yang dikutip Kamis (18/4/2024).

Film dokumenter “Pilihan’ diproduksi oleh Ruang Migran, sebuah komunitas yang dimotori oleh Noor Huda, yang merupakan mantan wartawan, aktivis sekaligus pembuat film dokumenter yang kini sedang menjadi rekanan peneliti di Nanyang Technological University, Singapura.

RUMI menayangkan film ini pada Jumat 19 April 2024 di @America Jakarta, Pacific Place Mall Jakarta. Acara ini dibuka Andhika Chrisnayudhanto, Deputi Bidang Kerjasama Internasional, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme RI dengan Keynote Speaker Kepala BP2MI Benny Rhamdani.

Film ini menceritakan kisah Listyowati dan Masyitoh, dua pekerja migran di Singapura. Listyowati, pekerja migran asal Sendangkulon, berjuang dengan realitas pahit pernikahan. Mimpi-mimpinya tentang kehidupan yang lebih baik hancur oleh kekejaman suaminya, meninggalkannya kecewa dan merindukan tujuan hidup, serta perjalanannya berubah drastis ketika ia tersandung atas kekejaman yang terjadi di Timur Tengah.

Terkejut oleh penderitaan anak-anak yang tak bersalah, Listyowati merasa terdorong untuk bertindak. Namun, usahanya yang salah untuk mencari makna membawanya ke jalan berbahaya menuju ekstremisme, sehingga dia ditangkap oleh kepolisian.

Kisah kedua bercerita tentang pekerja migran Indonesia di Singapura, Masyitoh memulai perjalanan penemuan diri dan pemberdayaan. Melalui kerja keras dan tekad, Masyitoh menemukan dirinya dalam perjalanan menuju pendidikan dan kewirausahaan.

Perjalanannya berubah secara transformatif ketika ia menemukan kekuatan perdagangan online atau daring.

 



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *